| 김남준 |
My SocMed
Twitter Instagram Tumblr Wattpad Blogger
Back AUTHOR CHINGU Stuffs Follow


Annyeong!
About Zatlever

Fathima Azzahra @ 12 years old. 22 April 2005. Author of this blog. This skins designed by Neira. And basecode from Anugerahsalsa.

Chit Chat
Wanna to request or ask?



Thank You
big claps!

© 2013 - Full Template Designed by Neira FRJZ. Basecode by Anugerahsalsa. And Re-edit by FathimZahra
My Story: Memasak Pertama
Kamis, 09 Juni 2016 | 0 PinkaBlue(s)
Hasil gambar untuk tulisan my story
Heloo ...
Lagi ngebut nih
Makanya cepetan read more!
Memasak Pertama
            “Nafla! Nisrina! Nisa! Mengapa kalian berbicara pada saat ujian berlangsung? Apa yang kalian bicarakan?” Pak Dhani, kepala sekolah Cooking International School, memarahi ketiga gadis cilik yang duduk dihadapannya.
            “Kami … membicarakan … tentang ….” Nafla menelan ludah. Tak mudah menghadapi ‘Kepsek Tergalak’ ini. Kalau mengatakan yang sebenarnya, habislah ketiga gadis cilik itu.
            “Apa? Membicarakan apa, hah?!” Pak Dhani menahan ‘Bom Alami’ dirinya.
            “I … itu … kami mau masak bersama, jadi untuk memastikan saya bertanya kepada mereka berdua,” jawab Nisrina. Kupikir inilah alasan terbaik untuk menghadapi kepsek galak! Pikir Nisrina.
            “Memasak bersama? Hmm … kalau begitu, saya memberikan hukuman yang ringan!” Pak Dhani mulai luluh.
            “Apa hukumannya, Pak Dhani?”
            “Kalian harus MEMASAK MAKANAN RINGAN UNTUK MAKANAN PEMBUKA BUAT SELURUH MURID MOUNTAIN SCHOOL!!” Pak Dhani hampir berteriak. Membuat Nafla, Nisrina dan Nisa jelas terkaget-kaget dan mengangga.
            “Appa …?? Beneran, nih … Pak?” Nisa bertanya gugup.
            “Ya iyalah. Ada-ada saja nanya-nya. Saya enggak main-main! Sudah, ke dapur sekolah, sana! Harus siap sebelum bel makan siang berbunyi!” perintah Pak Dhani. Nisa, Nisrina dan Nafla berjalan dengan malasnya.
***
            Sampai di dapur Mountain Kitchen …
            “Pak Dhani itu … nyebelin amat. Dibilang hukuman ginian, kok, ringan!” sungut Nisrina sambil memakai celemek pilihannya. “Tul, tuh … bener dibilang Nisna!” Nafla membenarkan. Nafla memang suka memanggil Nisrina dengan nama Nisna.
            “Huh … lagian salah Nisrina juga … masa dibilang mau nanya sama aku tentang masak bersama. Yang lain, dong alasannya. Mana aku nggak pernah masak, lagi. Mau ditaruh dimana mukaku saat makanan kita gosong rasanya?” Nisa cemberut abis.
            “Iya … iya. Memang salahku … maafin deh, ya! Tapi, aku juga nggak bisa masak! Dooh … gimana, nih, jadinya? Ngidupin api kompor saja mau meledak rasanya jantungku,” Nisrina kesal kepada dirinya sendiri.
            “What? Jadi, kalian ini nggak bisa masak? Kayak aku, dong … pandai memasak? Mau apa? Spaghetti bolognase? Boleh! Pizza? Oke! Apa yang tidak bisa kumasak?” Nafla sedikit menyombongkan diri.
            “Dih … kamu tuh, ya, sombong amat! Masak batu sampai lunak saja tidak bisa!” ejek Nisrina setengah kesal. Nafla cemberut, “Nisna, kamu tuh, yang telmi! Tahu enggak, sih … batu itu, kalau dimasak sampai beribu-ribu abad pun tidak akan lunak!” jawabnya dengan jengkel.
            “Udah, udah! Aku putuskan, Nafla saja yang memasak. Nisrina membantu Nafla membaca resepnya,” jawab Nisa.
            “Trus, kamu ngapain?”
            “Santai-santai! Hehehe …” Nisa menyengir.
            “Idiihh … nggak mau, ya! Pokoknya, Nafla dan Nisa harus membantuku!” Nafla berkata setengah berteriak. Tiba-tiba, pintu dapur Mountain School terbuka, dan masuklah Pak Dhani. Tiga gadis cilik yang baru berdebat, menelan ludah pahit.
            “Saya dengar kalian bertiga bertengkar? Apa itu benar? Cepat, kerjakan hukuman sekarang juga!” Pak Dhani kesal. Tiga Gadis Cilik masih diam. Bingung. Pak Dhani semakin kesal, “atau, saya tambahkan hukuman …”
            Belum lagi Pak Dhani melanjutkan kata=katanya, Tiga Gadis Cilik terlonjak dan langsung berlari kea rah tempat bahan memasak.
Pak Dhani tersenyum senang. Namun, aksi Tiga Gadis Cilik berhenti ketika Pak Dhani bertanya, “Kalian ini mau masak apa?” Nafla terdiam. Nisa dan Nisrina berpikir keras.
            “Hmm … menurut bapak, bagusnya apa?” tanya Nafla se-sopan-sopan-nya. Takut, kepsek galak meledakkan bom alaminya.
            “Menurut bapak? Hm … mungkin ada banyak pilihan yang bisa kalian pilih. Pilih baik-baik, dengar. Puding, cupcake mini, pisang cokelat, dan … hm, selanjutnya bisa kalian pikir baik-baik!” jawab Pak Dhani.
            “Pisang cokelat saja! Setuju?” tanya Nafla kepada Nisrina dan Nisa. Nisrina dan Nisa mengangguk. Nafla tersenyum, “Pak, kami tidak tahu resep pisang cokelat. Apakah Bapak atau dapur ini menyediakan resepnya?”
            “Ya, ada resepnya. Itu … di laci dekat kulkas. Laci warna ungu,” jawab Pak Dhani. Nisa segera mengambil resepnya, “terima kasih, Pak!”
            “Ya, sama-sama kembali!” jawab Pak Dhani. Beliau keluar dari Mountain Kitchen. “Baik, Nisa membaca resep dan Nisrina membantuku memasak,” atur Nafla layaknya seorang bos wanita.  Nisa mengangguk senang—hobinya itu membaca,  jadi tidak susah ia disuruh membaca resep.
            “Baca resepnya!” suruh Nisrina. “Pisang, gula, cokelat butiran, bla … bla … bla!!” baca Nisa. “Ambil gula, ya, Nisna!” suruh Nafla. Nisrina segera mengambil toples di dekat kompor, “Nih!” ucapnya sambil mengulurkan gula itu.
            Saat Nafla memegang gulanya …
            “Eh, Nisna! Gulanya, kok, hancur banget? Biasanya, gula itu beda bentuknya sama garam!” Nafla bertanya sekaligus memperingatkan Nisrina. Nisrina hanya menoleh santai, “kali aja itu gula udah di injak sama semut!”
            Nafla mengembangkan hidungnya, dengan tatapan sayu—artinya, ia melongo sekaligus kesal, “Nisnaa!! Kamu serius, dong, gimana, sih, nggak peduli sama sekali ke tugas. Yang bener, dong, jawabnya! Main-main aja urusanmu!” omel Nafla. Lalu, Nafla terlihat buru-buru.
            “Duh … duh!! Kebelet, nih! Nisna, tolong taruh gula ke adonan sesuai takaran, ya!” perintahnya, lalu buru-buru berjalan ke kamar mandi.
            Nisrina menerima toples gula yang disodorkan Nafla kepadanya. Nisrina pun menaruh gula ke adonan dengan asal dimasukkan.
***
            “Eh, Dek, ini … makanan ringannya kalian yang buat, ya??” sapaan Kakak kelas membuat Tiga Gadis Cilik tersipu-sipu. Saat itu, mereka sedang melahap makan siang di Ruang Makan Mountain School.
            “Iya, Kak … masakannya di-kritik, yaa!” jawaban Tiga Gadis Cilik itu berulang-ulang terlontar dari mulut mereka. Sampai saatnya memakan makanan ringan.
 “Semua muridku … hari ini, makanan ringan untuk kita special dibuat oleh … Nisrina Cantika, Nafla Zahira, dan Nisa Nainawa! Selamat dicicipi, semoga memuaskan rasanya!” sambut Pak Dhani. Tepukan tangan meriah menyambut kalimat terakhir Pak Dhani.
            Pisang cokelat buatan Tiga Gadis Cilik pun ditaruh di atas meja makan. Kakak kelas Tiga Gadis Ciliklah yang paling girang melihat yang dibuat Tiga Gadis Cilik. Mereka berebutan mengambil makanan. Untungnya, Tiga Gadis Cilik membuat pisang cokelat dengan jumlah yang banyak.
            Nafla, Nisrina dan Nisa sangat menunggu detik-detik terakhir pisang cokeat mereka masuk mulut. Mereka menunggu kritik dari semuanya.
            “Puah! Enggak … enak! Rasanya asin!”
            “Hueekk!! Nggak enak!”
            “Asiinn!!”
            “Huek! Asin banget!”
            Berbagai pujian yang ditunggu Tiga Gadis Cilik tidak sampai. Mereka malah menelan ludah. Membayangkan betapa jijiknya rasa pisang cokelat asin buatan mereka.
            Nisa mengambil satu pisang cokelat buatan ia dan dua sahabat karibnya. Ia siap-siap meludah jika rasanya memang asin seperti yang dikatakan kakak kelas mereka. Nisa dengan berani melahap secuil pisang cokelatnya.
            Dan … benar!
            “ASINNYAAA!!” teriak Nisa tertahan. Segera ia berkumur-kumur untuk menghilangkan rasa asin dari pisang cokelatnya. Sudah terlanjur, Nisa menelan pisang cokelatnya.
            “Memangnya benar-benar asin?” tanya beberapa orang guru Mountain International School. Mereka mulai mengambil pisang cokelat buatan Tiga Gadis Cilik dan melahapnya. Benar, rasanya memang asin seperti yang lainnya katakan!
            Sebelum para guru itu memanggil Tiga Gadis Cilik, Nafla, Nisa, dan Nisrina kabur ke kamar mandi sekolah. Pintu kamar mandi mereka tutup rapat-rapat dan dikunci. Mereka mulai menatap sesama.
            “Siapa, sih, yang taruh garam? Kan, enggak ada garam dalam bahannya!” tanya Nisa.
            Nafla hanya mengangkat bahu, sedangkan Nisrina mengerutkan kening.
            “Ah! Yang ngambil garam mungkin Nisna! Habis … yang mengambil gula adalah Nisna. Juga, saat kupegang gulanya serasa kayak pegang garam. Nisna, nih … biang keladinya!” tebak Nafla. Nisa cekikikan.
            Wajah Nisrina merah padam. Malu.
            “Dih … besok aku mau jujur sajalah … daripada banyak alasan, nanti kejadiannya malah lebih buruk dari kejadian ini!” Nisa cemberut. Nafla mengiyakan.
            “ Sedangkan aku … mau les masak! Masak itu penting rupanya. Ya udah, aku putuskan aku harus les memasak!” ucap Nisrina.
            “Wah, nanti, aku ikut, deh, bareng les masak sama kamu!” dukung Nisa.
            “Les masaknya sama aku aja …” kata Nafla menyombongkan diri lagi.
            “Oke! Tapi … jangan kejadian kayak tadi lagi, ya!” Nisa mengingatkan. Mereka tertawa. 

THE END

Okey selesai!!
Maaf kalo kepanjangan :V
Oke
Sayonaaa




Posting Komentar