Cerbung: Adellia #2

by - 14.46.00

Hello gaes ... (ketularan teman-teman nih)!! Gimana kabar lo mua?? Baik kan??? Oya, aku minta maaf ya udah off beberapa hari. Habis ... pulsa modemku habis. Huaaa (nangis mecahin guci). Huft, untung sudah diisiin sama Ayah. Thanks, Dad! Yuk kita-kita read more, baca lanjutan Adellia nya ...


Aku menghela napas berat, “Adellia. Dia yang mengambilnya. Ia juga mengambil barang-barangku yang kemarin kakak sadari hilang dari kamarku.”
            Kak Laisa terkejut, namun ia berusaha menutupi itu. Tetapi, aku menyadarinya.
            “Mengapa ia tega melakukan itu? Bukankah itu namanya …” Kak Laisa tercekat, ”mencuri …? Kalian adalah sahabat, bukan?”
            Aku berpikir. Haruskah menjelaskan masalah ini kepada Kak Laisa?
            “Kak … kami bukan sahabat lagi.”
            “Kenapa?”
            “Aku akan menceritakannya. Tapi …” aku terdiam sejenak, “kakak janji, ya, jangan memberitahukannya pada siapapun?”
            “Ceritakan dulu. Kakak tak bisa berjanji terlalu cepat. Kalau kakak sudah mengetahui masalahnya, dan kita memerlukan orang lain untuk memcahkannya, bagaimana? Kita jadinya tak bisa meminta bantuannya, karena kakak sudah terlanjur berjanji.”
            Meskipun berat, aku segera menceritakannya. Dari Adellia bertemu geng Beauty Girl’s, Adellia yang berkhianat, pertengkaran kami di pekarangan rumah Adellia, kehilangan laptop dan pulpenku, sampai perdebatan kami di sekolah. Kak Laisa mendengar dengan serius.
            “Menyedihkan.” Komentar Kak Laisa.
            “Tentu saja aku sedih, Kak! Dia sudah mengkhianatiku, lalu mencuri barang-barangku. Sepertinya, Adellia bersahabat denganku bukan karena ingin bersahabat, tetapi ia ingin memanfaatkanku.”
            “Jangan terlalu berprasangka buruk dahulu,” Kak Laisa memegang bahuku.
            “Tapi, kak …” aku mencoba menyela, “ah, ya sudahlah …”
            “Kakak akan membantumu,” Kak Laisa berkata sambil membuka pintu. “tenang saja,” senyumnya mengembang. Lalu, ia keluar.
            “Terima kasih,” aku menggumam. “Tapi, Kak, aku takkan mempercayai Adellia lagi. Sampai kapanpun …”
***
            Di sekolah, saat istirahat, aku tak berselera makan. Aku merasa kenyang. Karena tidak tahu mau melakukan apa, aku memutuskan untuk menulis diary.
            Diary …
            Diary, aku kesepian saat tidak ada Adellia. Apakah aku mulai merindukannya? Uuh … aku tidak boleh merindukannya! Tidak! Bukankah ia sudah membuatku bersedih? Membuatku harus menjalankan hukuman—yang masalahnya ia perbuat? Aku juga sudah berjanji pada hatiku, aku tak ingin percaya Adellia lagi. Ia pengkhianat. Kalau ia meminta maaf, aku hanya memaafkannya. Lalu? Yah … aku takkan mendekatinya lagi. Aku akan mencari sahabat yang lebih memedulikan aku, memercayai aku, dan dirinya pribadi sebagai seorang sahabat bagiku.
            Aku mulai berprasangka buruk. Apa?! Bukankah berprasangka buruk itu tidak baik? Yah, menurutku, prasangka ini memang benar. Adellia bersekongkol dengan geng Beauty Girl’s! Ia bekerja sama dengan geng yang selama ini mendapat predikat ‘geng musuh’ dihatiku. Kalau itu benar, aku akan minta pindah sekolah! Diary, bukankah kamu sering menerima curhat seseorang yang merasa dikhianati? Berarti, kamu tahu, kan, perasaan seseorang yang dikhinati? Itu artinya, kamu tahu perasaanku sekarang, bukan?! Aku merasa stress saja sekarang. L
            ~Charissa Lindsay
            Aku menutup diaryku. Kuletakkan diary itu dilaci mejaku. Lalu, aku berjalan menuju kantin. Perutku mulai terasa lapar.
***
            “Diaryku?!” aku terbelalak lebar. “Mana diaryku?”
            Ku-amburadulkan laci mejaku. Dadaku berdetak kencang. DIARYKU HILANG!
            “Kuncinya?!” aku tersentak. Kunci diaryku juga hilang! Ooh … bagaimana, ini?! Orang yang mengambilnya, pasti dapat membaca diaryku itu! Bagaimana kalau semua rahasiaku terbongkar?! Mau kutaruh dimana mukaku ini?!
            “Adellia!” aku menhentakkan kaki. Pasti dia lagi!!
            Tapi … hari ini, kan, Adellia nggak masuk sekolah? Dia, kan, sakit?! Jadi siapa?! Kalau anggota geng Beauty Girl’s yang lain, kan, gak mungkin … mereka sekolahnya bukan disini!!
            Mukaku gelisah. Kucari kembali diaryku itu ditempat lain. “Semoga ketemu … semoga ketemu … cuma keselip … cuma keselip …” aku menenangkan diri dengan gelisah. Namun, diary itu juga tak ada!
            Mataku mulai berair. Oh, tidak … jangan menangis di situasi seperti ini. Jangan!
            “Lindsay?” seseorang memanggilku. Aku terkejut, lalu cepat-cepat menoleh.
            “Lindsay, kamu kenapa?” Lili, ia mengulang kembali pertanyaannya.
            “Aku … aku …” tangisku pecah, “diaryku hilaaang! Hiks …”
            “Hm?!” Lili terdiam. “Tadi … aku lihat Adellia, lho. Dia memegang diarymu. Diarymu … berbentuk love berwarna polkadot hitam-putih, kan?!”
            “Iya!” aku mengangguk cepat-cepat. “Tapi, Adellia, kan, nggak datang hari ini. Mungkin, kamu salah lihat orang.”
            “Nggak!” Lili memotong, “dia bener-bener Adellia! Aku samperin dia, terus aku tanya, kenapa dia pegang diarymu. Dia bilang … kamu ngijinin dia membaca isi diarymu. Terus, dia bilang, dia nggak datang karena paginya dia agak pusing.”
            “Pembohong!” aku berseru. “Lili, padahal aku nggak ngijinin dia sama sekali!”
            “Dia bohong?” Lili terbelalak. “Ya!” aku menjawab.
***
            “Nih, paket dari Adellia.” Kak Laisa menyerahkan sebuah paket. Aku menatap paket itu dahulu. “Kak, aku nggak mau percaya sama Adellia lagi,” tolakku. “Adellia terlalu jahat untukku.” “Tak boleh seperti itu, Lindsay!” Kak Laisa menegurku. “Berusahalah untuk memaafkan semua kesalahan orang kepadamu.”
            Aku memberengut. Lalu, dengan setengah hati, aku membuka paket itu. Isinya … sebuah surat, diaryku, dan semua barang-barang yang ia curi dari kamarku. Kubaca suratnya:
            Untuk: Charissa Lindsay
            Dari: Adellia
            Maaf, ya, Lindsay … aku telah mengkhianatimu serta mencuri beberapa barangmu. Jujur, aku sangat menyesal atas semua yang aku lakukan kepadamu. Berarti, dosaku bertambah banyak. Dan aku tak ingin menambahkannya menjadi lebih banyak lagi. Mungkin kamu sudah menyangka ini: aku bekerja sama dengan geng Beauty Girl’s. Sebelum aku bersahabat denganmu, aku dan geng itu sudah berencana akan membuatmu seperti itu. Maaf … aku sudah membaca beberapa lembar diarymu. Dan aku tahu … kamu takkan mau lagi bersahabat denganku. Kamu terlalu sakit hati gara-gara semua yang aku lakukan. Aku minta maaf. Dan … mungkin kamu berhak mengetahui ini karena kamu adalah mantan sahabatku. ‘Aku akan pindah sekolah dan pindah rumah. Perusahaan Papaku bangkrut dan Papa ingin membuat usaha kecil-kecilan di Palembang, kampungku.’ Kuberikan padamu handpone-ku sebagai benda kenang-kenangan. Bye, bye … carilah sahabat yang lebih baik dari aku, ya!
            Aku terdiam. Adellia memang seharusnya mendapat itu semua. Namun … aku tak ingin ia pergi dengan membawa perbuatan salahnya yang belum kumaafkan.
            Baiklah, aku menatap langit-langit kamar, aku memafkanmu, Adellia. Walaupun aku masih sakit hati kepadamu …


 Hore, sudah selesai! Semoga makna cerita ini sampai ke teman2 semua, ya! Dadaah!

You May Also Like

0 Comments